-->

Sinopsis Whisper Episode 5 Part 1

- April 18, 2017
>
Sinopsis Whisper Episode 5 Part 1

Sumber Gambar dan Konten dari SBS


Ringkasan Episode Sebelumnya
: Lee Dong Joon membuat putusan yang tidak bermoral dengan memenjarakan ayah Shin Young Joo. Gantinyanya, Young Joo membuat video untuk menekan Dong Joon. Namun, ketika Dong Joon jatuh ke dalam perangkap, Young Joo datang menyelamatkannya.

Sementara itu, Dong Joon mengetahui bahwa Jeong Il dan Soo Yeon berselingkuh dan Jeong Il berencana  mengambil alih Taebaek. Jeong Il membuat perangkap untuk menangkap Dong Joon dan Young Joo dengan menggunakan viseo itu. Tapi Young Joo berhasil menyingkirkan salinan asli video itu dengan bantuan Hyun Soo.


Jeong Il menyandera Young Joo dan kali ini giliran Dong Joon yang menyelamatkannya. Di depan Ketua Kang Yoo Taek dan CEO Choi Il Hwan, ia berani mengancam Jeong Il melalui Soo Yeon.

"Soo Yeon akan ditangkap karena penggunaan narkoba." Ucapnya ditelfon pada Jeong Il.

Lalu ia menurunkan ponsel dari telinganya untuk bicara pada Soo Yeon. Ia berterimakasih atas hadiahnya dari Soo Yeon dan ingin membalas budi sebagai suami. Lalu ia kembali mengangkat ponselnya.

"Dia akan dituduh karena kebiasaan mengonsumsi narkoba. Selama beberapa hari terakhir, dia mengonsumsi dalam dosis kecil, dua kali sehari. Jika kau ingin menyelamatkan Soo Yeon, cepat buat keputusanmu! Sekarang, ada detektif yang sedang bersiaga. Kang Jeong Il-ssi, Aku akan mengembalikan kekasihmu. Dan aku ingin sekretarisku kembali."

Dong Joon lalu menyerahkan paksa ponselnya pada Soo Yeon. Memberi pilihan, menyuruhnya meminta bantuan Jeong Il atau mengucapkan selamat tinggal. Soo Yeon terdiam berpikir.

Ketua Kang mengulangi kata-kata Dong Joon tadi, apa Soo Yeon menggunakan narkoba. Dong Joon menjawab, ia hanya mengembalikan hadiah karena merasa tidak layak mendapatkannya.

Soo Yeon memanggil Ayahnya minta bantuan. Tapi CEO Choi menjawab kalau ini adalah urusannya dengan Dong Joon (suaminya) jadi ia harus mengurusnya sendiri.

Mendengar itu, Soo Yeon langsung memandang Dong Joon tajam penuh kekesalan. Dan tanpa melepaskan pandangan itu ia bicara pada Jeong Il.

"Oppa! Aku tidak berpikir hari ini adalah hari yang sudah kita tunggu."

Jeong Il mendengarkan perkatannya dan menutup telfon. Young Joo bicara setelahnya, "Kita harus minum teh lain waktu." Lalu melenggang pergi.

Tapi Detektif Senior itu menahannya, katanya di luar sana berbahaya jadi Young Joo ikut saja dengan mereka secara baik-baik.

Tinju Young Joo langsung mendarat di wajah itu Detektif sampai membuatnya tersungkur di meja. Sebelum pergi ia berpesan agar mereka semua membersihkan sendiri kekacauan ini.

Sementara itu, Jeong Il hanya diam saja sedari tadi dan membiarkan Young Joo pergi dengan mulus. Young Joo berjalan keluar dengan bebeas, ia bahkan sempat membuat sarung tangan hitam yang dipakainya di lorong.

Dong Joon sekarang tinggal berdua dengan CEO Choi, minum-minum. Ia bertanya, jika ia meninggalkan Taebaek, apa yang akan terjadi?

CEO Choi tertawa, ia yakin Jang Hyun Guk (Ketua Mahkamah Agung) akan senang. Dong Joon memadang CEO Choi penih tanya. CEO Choi paham lalu menjelaskan. Putri Ketua MA mengalami keguguran setelah melihat suaminya dimasukkan ke dalam penjara, dan semua itu berkat Dong Joon.

Dong Joon langsung lesu, dengan suara agak lemah ia bertanya lagi. Kenapa Soo Yeon menyetujui pernikahan ini?

Kilas Balik...

Sepertinya ini setelah kejadian di tempat pemancingan. Soo Yeon yang masih basah datang menemui ayahnya bersama Jeong Il. Ia meminta bantuan Ayahnya, suaranya bergetar menjelaskan kalau semua ini salahnya, ia yang membocorkan dokumen rahasia mengenai rompi antipeluru dan ia jugalah yang menyewa Baek Sang Gu.

CEO Choi melihat bercak darah di ujung lengan Jeong Il dan selama itu ia belum menanggapi Soo Yeon. Soo Yeon melanjutkan lagi setelah berhenti untuk menatap Jeong Il sesaat.

"Jasadnya sudah dikirim ke NISI. Tolong bantu kami. Ayah. Aku mohon padamu." Soo Yeon terdengar sangat ketakutan dan putus asa.

Jeong Il akhirnya bersuara, ia akan menunda untuk menikahi Soo Yeon sampai masalah ini telah ditangani. Tapi CEO Choi menggeleng, tidak! Soo Yeon harus melanjutkan pernikahan... dengan pria lain.

"Ayah." Protes Soo Yeon tapi CEO Choi tidak mendengarkan, "Ini sudah hampir pagi. Sebelum semua orang tahu, ada banyak hal yang harus diurus."

Kilas Balik selesai...

CEO Choi menjelaskan, setelah pernikahan ia berencana membiarkan Jeong Il pergi. Tapi Soo Yeon sudah mengikat tangannya.

"Dong Joon-ah. Kau harus berurusan dengan Jeong Il sendiri. Tak ada satu pun orang di Taebaek yang bisa membantumu dengan situasi ini."

"Tidak, ada satu."

Scene langsung beralih ke Young Joo yang saat ini ada di tepi sungai Han dan tak lama kemudian Dong Joon berdidi menjajarinya. Dong Joon melihat luka disudut bibir Young Joo, ia menyuruh Young Joo mengobati luka itu terlebih dahulu dan mengatakan ada apotek didekat sana. Ia akan pergi kesana tapi Young Joo menahannya.

Young Joo menyalahkan Dong Joon. Seandainya Dong Joon tidak salah membuat putusan semua ini takkan terjadi. Selama 10 tahun bekerja sebagai hakim, ia yakin Dong Joon membuat banyak putusan. Beberapa hukuman mati dan lainnya ke penjara.

"Lee Dong Joon-ssi. Jika kau berdiri di hadapan pengadilan, aku ingin tahu apa hukumanmu."

"Aku akan mendapat masa percobaan." Jawab Dong Joon yang tidak memberi kepuasan bagi Young Joo.

ibu Young Joo menelfon, mengabari kalau ayah akan keluar besok pagi untuk menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Ibu heran, awalnya mereka tidak mengijinkan pemeriksaan di luar tapi kali ini mereka bahkan mengijinkan keluarga untuk menemani.

"Ibu, di rumah sakit mana?" Tanya Young Joo.

Mendengar pertanyaan itu, Dong Joon pun menjawab. Rumah sakitnya memang kecil tapi mereka memiliki tim medis yang bagus. Dokter yang bertanggung jawab adalah ahli jantung-paru. Mendengar jawaban itu, Young Joo lalu menutup telfon ibunya.

Dong Joon melanjutkan, ia akan mendapat masa percobaan karena membantu korban. Atau mungkin dakwaannya bisa saja ditangguhkan.

"Lee Dong Joon-ssi, kau tipe orang yang akan sukses. Kau tidak punya penyesalan atau apa kau merenungkan kesalahanmu."

"Aku punya penyesalan. Aku menyesal tidak membiarkan menantu Ketua MA dibebaskan dan dilepaskan. Maka tidak akan ada pengangkatan kembali. Dan aku merenungkan kesalahanku. Aku harusnya mengabaikan penggelapan menantunya. Lalu, aku pasti sudah ada di kantor penelitian di Mahkamah Agung. Setelah itu, aku akan kembali sebagai hakim ketua." Bantah Dong Joon disertai penjelasan panjang.

"Aku bertanya-tanya, kenapa orang menyebutmu sebagai hakim yang memegang pendirian tegas dan memiliki prinsip moral yang tinggi. Kau hanyalah pengkhianat."

"Tidak mungkin aku kembali. Aku tak akan bisa tetap dengan pendirianku, jadi tidak ada gunanya itu. Semua orang membuat penyesuaian dan akan terbiasa hidup dengan cara ini."

Giliran Young Joo yang membatah, tidak semua orang begitu. Ayahnya harus melihat teman dekatnya mati dan rekan-rekannya mengkhianatinya, tapi dia tetap 'mengangkat kepalanya' dan...

"Dia akhirnya berakhir di penjara, bukan?" Potong Dong Joon.

"Lee Dong Joon-ssi!"

"Kita akan mengeluarkan dia. Jika kau tidak terburu-buru, haruskah kita menyesal lagi?"


Nampaknya Young Joo mulai sejalan dengan Dong Joon kali ini, dibuktikan dengan nada suaranya yang tidak lagi membentak. Mereka tahu harus ada bukti untuk membuktikan itu pembunuhan. Mereka harus cari tahu motif kejahatan sekarang. Ada dokumen yang sudah diamankan Reporter Kim yang bagi Kim Jeong Il, itu lebih berharga daripada hidupnya. Meskipun itu bukan hidupnya sendiri.

"Dokumen rahasia pada tes kinerja rompi antipeluru. Soo Yeon punya itu." Aku Dong Joon.

Young Joo yakin itu pasti ada di brankas Soo Yeon yang berarti ada di kantornya. Ia lalu membagi tugas, menyuruh Dong Joon mencari kunci brankasnya sementara ia akan mengumpulkan informasi terkait rompi antipeluru.

"Aku akan mengarahkan penyelidikan. Kau bisa bergabung denganku atau tetap menjauh." Tegas Young Joo lalu meninggalkan Dong Joon.

Ayah Young Joo menjalani pemeriksaan sesuai jadwal dan Young Joo menungguinya berserta para petugas rutan.

Dong Joon meminta bantuan seniornya, Kepala Sekretaris Song Tae Gon untuk mendapatkan sidik jari Soo Yeon karena Kepala Sekretaris memiliki akses kesana. Sebagai gantinya, aia akan pastikan Tae Joon tetap menjadi Kepala Sekretaris Taebaek hingga akhir hayatnya.

"Dong Joon-ah, apa kau akan membuat sample sidik jari 3D?" Tanya Tae Gon dan Dong Joon mengangguk. "Tapi Dong Joon, bagaimana kau akan melakukannya tanpa sidik jari? Bagaimana bisa kau banyak berubah hanya dalam sebulan?"

"Sunbae (Senior)!"

"Senior apanya. Seorang jaksa korup cukup cerdas. Setelah CEO ini mundur, aku pikir CEO berikutnya akan duduk di kantor itu. Apa yang bisa kau lakukan, Dong Joon-ah?"

Sontak Dong Joon langsung berdiri. Tapi Tae Joon juga ikutan. tentunya melanjutkan sindirannya, "Aku dengar, kau memberikan pidato di konferensi untuk para ahli hukum. Kau pernah belajar bahasa Inggris sebelum  memberi konsultasi gratis untuk imigran. Bagus sekali."

Setelah itu Tae Joon keluar ruangan Dong Joon dengan senyum tersungging di bibirnya.

Ternyata Jeong Il dan Soo Yeon berdiri menghadap ruangan Dong Joo. jeong Il membahas soal video Young Joo-Dong Joon yang sudah lenyap. Artinya rantai yang mengikat Dong Joon sekarang hilang.

"Aku akan mencoba mengikatnya lagi." Usul Soo Yeon.

"Dia bukan hal yang mudah. Dia agak terlalu berlebihan bagi..."

"seorang istri bisa menjinakkan suaminya." Potong Soo Yeon.

Mereka terus mengamati sampai Dong Joon meninggalkan ruangannya. Soo Yeon lalu berujar, "Menyedihkan. Selama Konferensi Internasional untuk ahli hukum, dia akan bertemu mimpi buruk."

-= Konferensi Internasional untuk Ahli Hukum =-
Dong Joon datang dan disambut oleh Ketua MA. Ketegangan disini terjadi, saat Ketua MA menjabat erat (sangat erat) tangan Dong Joon, ditambah mukanya bersungut-sungut. 

Tuan Shin bisa merasakan kebebasan karena ia diijinkan makan bersama keluarganya, walau tentunya masih diawasi oleh petugas rutan. Pembicaraan pertama adalah meyuruh Young Joo untuk keluar dari Taebaek dan tinggal di rumah saja membantu ibu. Jangan lakukan apapun sampai ayah pulang!

"Jika aku tidak melakukan apa pun, Ayah tidak akan pernah keluar." Jawab Young Joo.

"Setengah dari para menteri berhubungan dengan Taebaek. Banyak dari mereka di kepolisian dan kejaksaan terkait dengan mereka juga."

Young Joo menjawab ayahnya sambil memberikan sendok dan sumpit untuk ayah ibunya serta membumbui sup miliknya. Itu sebabnya ia menghormati Ayahnya. Ayah berdiri melawan Taebaek yang hebat untuk mengekspos korupsi rompi antipeluru mereka. Ayah menjadi tawanan mereka  ketika melakukan hal itu dan ia mencoba untuk mendapatkan pertukaran tahanan.

"Tunggulah sebentar lagi." Tutup Young Joo.

"Young Joo-ya." Ucap ayah mencoba mengubah pemikiran Young Joo.

"Kenapa tidak kau lihat peristiwa ayahmu? Kau jadi seperti dia ketika kau begitu gigih." Imbuh ibu.


Dong Joon pulang dan disambut oleh Soo Yeon yang tengah minum wine. Soo Yeon mengajak Dong Joon bergabung, ia mengatakan itu wine dari Bordeaux yang bagus di saat kelelahan dan ketakutan.

Dong Joon pun ikut duduk bersama Soo Yeon tanpa menjawab.

Soo Yeon membacakan motto Tuan Jang (Ketua MA) yang dikatakannya selama pelantikan, "Pengadilan tegak, hakim dipercaya".

"Semua orang akan menjalani penyelidikan internal. Hakim yang mendapat perlakuan khusus dari orang yang terlibat dalam kasus ini, hakim yang memberikan hak bagi mantan hakim, dan seorang mantan hakim yang tidur dengan putri korban."

Dong Joon bertanya, apa yang Soo Yeon berikan pada Ketua MA. Soo Yeon menunjukkan screenshot dari video yang diunggah Young Joo, katanya Keta MA akan mengetahui wajah orang pada gambar itu.

"Apa kau mengambil imbalan dari sidang kedua menantunya?" Tebak Dong Joon.

"Aku masih memikirkan itu. Siapa pengacara terbaik yang kita miliki untuk kasus penggelapan?"

Soo Yeon tersenyum puas, bagaimana rasanya malam itu, tanyanya pada Dong Joon. Dong Joon balik bertanya, bagaimana rasanya bersama seorang pembunuh?

"Tangannya berlumuran darah karena aku. Jadi, aku harus membersihkannya. Aku berjanji pada Ketua MA bahwa menantunya akan bebas, dan menantu Firma Hukum Taebaek yang akan menggantikannya." Jawab Soo yeon santai.

"Itu janji yang tidak bisa kau tepati." Tanggapan Dong Joon dengan senyum meremehkan.

"Kau harus tunjukkan keputusasaan ketika aku tidak bisa melihatnya."

Besoknya pengumuman penyelidikan internal untuk seluruh Hakim termasuk yang berhenti dalam 2 tahun terakhir sudah diberitakan di media. Penyelidikan internal itu sebagian  besar akan berpusat di sekitar hakim yang menerima perlakuan khusus dari pengacara atau korban. Jika tuduhan terbukti, semua hakim saat ini dan sebelumnya akan dihukum keras mengingat tanggung jawab sosial mereka.

Pengacara Hwang menjelaskan pada Soo Yeon, Menantu Ketua MA tidak mendapat hukuman keras selama sidang pertama karena mereka memberikan rekening palsu. Lalu Pengacara Hwang memberikan rekening yang asli pada Soo Yeon.

"Dia menggelapkan dua kali lebih banyak dari yang diketahui."

Soo Yeon bertanya kapan sidang sidangnya setelah melihat sekilas rekening itu. Ia menyinggung soal Pengacara Hwang yang akan sibuk dengan sidang dan acara TV.

Soo Yeon lalu ke ruangan Jeong Il. Jeong Il berkata, Ketua MA menebarkan jala hanya untuk menangkap Lee Dong Joon.

"Mungkin karena orang berpikir itu penyelidikan yang ditargetkan." Balas Soo Yeon.

"Kode menyatakan seorang hakim bahkan tidak diperbolehkan untuk berbicara dengan keluarga korban."

"Dan mereka menghabiskan malam bersama. Ini kabar buruk untuk Dong Joon."

Dong Joon bergegas ke rumah sakit ibunya. Ternyata disana sudah ada tim penyelidikan internal yang tengah melakukan penyelidikan silang. Dong Joon tahu ibunya sangat khawatir, maka ia memegang tangan ibunya untuk menenangkan.


"Ada laporan yang mengatakan, Anda mengancam putri korban untuk tidur dengan Anda ketika Anda menjadi hakim. Anda memberitahu dia akan menghakimi itu, dan melanjutkan hubungan dengannya setelah itu. Bisa Anda ceritakan apa yang kau lakukan sehari sebelum hari pernikahan Anda?" Tanya petugas.

Dong Joon tidak kunjung menjawabnya, malah melihat ibunya yang tampak shock. Ibunya bersandiwara kalau malam itu Dong Joon makan malam dengannya tapi kelihatan banget gugupnya. Dong Joon pun mengikuti sandiwara ibunya.

Tapi petugas tersenyum karena keterangan yang merka dapat dari teman Dong Joon berbeda. Teman Dong Joon mengatakan kalau malam itu DOng Joon sedang minum-minum bersama mereka. Dong Joon diam,petugas lalu beralih pada Ibu, mengingatkan kalau ibu bisa ditahan karena memberi kesaksian palsu.

"Ibu." Ucap Dong Joon saat ibunya menatapnya.

Tae Gon memberitahu CEO Choi bahwa Ketua MA tidak bisa datang karena tidak sehat. CEO Choi yang hendak minum tidak jadi dan meletakkan gelasnya kembali ke meja dengan kesal.

Tiba-tiba Ketua Kang masuk sambil berkata kalau Kepala Ma melempar bola dengan baik lebih dari 200 halaman bahkan pada usianya. Dia pasti senang mendengar mereka akan berinvestasi di perusahaan menantunya ketika dia bebas nanti.

"Aku akan minum segelas dan pergi. Tolong tuangkan." Ketua Kang meminta pada Tae Gon dan Tae Gon melakukannya dengan patuh.

Katua Kang mengeluh, kenapa rompi antipeluru membuat banyak masalah? CEO Choi membalas dengan nada sedikit ditinggikan, seharusnya Ketua Kang membuatnya dengan benar.

"Mereka menyuruhmu membuat sesuatu yang akan memblokir tembakan. Tapi kau membuat sesuatu yang bukan antipeluru." Lanjut CEO Choi lalu melemparkan serbet ke meja.

"Aku menghabiskan ribuan dolar menyuap orang-orang di kantor pertahanan untuk mendapat kontrak itu. Bagaimana aku bisa melakukan itu?"

Ketua Kang berhenti sejenak setelah mengatakannya dan meminta Tae Gon untuk menuangkan minuman kembali. Ia menatap tajam CEO Choi, "Apa kau tahu siapa yang menyerahkan dokumen rahasia ke reporter?"

Mendengar itu, Tae Gon gemetar dan mukanya kelihatan tegang, apalagi saat Ketua Kang memandangnya sambil berkata kalau ia tahu siapa orangnya.

memang Tae Gon yang menyerahkan dokumen itu pada reporter.

Ketua Kang bertanya pada Tae Gon, apa CEO Choi yang menyuruh Tae Gon melakukan itu? Apa CEO Choi ingin mengirimnya ke penjara dan mengusir Jeong Il dengan membocorkan berita itu?

"Anakku sudah mengabdikan dirinya belajar hukum sepanjang hidupnya. Apa benar kau yang membuat tangannya berlumuran darah?"

Tae Gon tidak mampu lagi memegang teko, ia meletakkannya dimeja dan menyembunyikan tangannya yang gemetar hebat.

Katua Kang beralih pada CEO Choi, memintanya menyerah dan berhenti menyakiti bawahannya. Setelah itu Ketua Kang pergi.

Tae Gon gugup karena ketahuan, ia menegaskan pada CEO Choi bahwa ia hanya melakukan apa yang CEO Choi perintahkan. CEO Choi tidak menjawab karena Dong Joon menelfonnya.

Tapi CEO Choi tidak menjawabnya, malah memberikan telfon itu pada Tae Gon sambil memerintahkan Tae Gon untuk membantu Dong Joon.


Gyeong Ho menyerahkan sesuatu pada Jeong Il. Ia mengeluh, walaupun mendapat gaji dua kali lipat tapi ia harus bekerja 3 kali lipat dari sebelumnya. Setelah pertemuan soal dana, ia mengikuti Young Joo seharian dan sekarang Young Joo ada di rumah sakit.

Young Joo saat ini mendengar penjelasan dokter. Ayahnya menderita kanker paru-paru dan perkembangannya sangat cepat walaupun saat ini memang belum menyebar.

Jeong Il memiliki ide mendengar kabar itu. Mereka harus menyelesaikan penyelidikan secepat mungkin karena sudah punya seseorang untuk bersaksi.

Dokter menyarankan, Young Joo harus meminta penangguhan eksekusi kepada Kepala jaksa. Young Joo menangis mendengarnya. Dokter mengerti Young Joo akan sulit menerima kenyataan, Young Joo mungkin akan menangis beberapa hari. Tapi sekarang kanker terus berkembang, jadi Young Joo harus bergegas.

Young Joo masuk kantor dan Jeong Il menelfonnya alasannya sih ingin Young Joo mengembalikan buku yang dipinjamnya. Young Joo pun bergegas membawa buku itu ke ruangan Jeong Il setelah meletakkan tasnya.

Saat itu di ruangan Jeong Il ada tamu. Jeong Il bertanya pada orang itu tapi ia memandang Young Joo yang akan keluar dan pertanyaan Jeong Il itu membuat Young Joo menghentikan langkahnya.

"Apa benar, ada banyak orang yang meminta penangguhan eksekusi?" tanya Jeong Il.

"Apa bagusnya itu? Hampir 9 dari 10 ditolak. Kenapa? Kau ingin memintanya untuk seseorang? Jika kau melakukannya, aku bisa mengurusnya." Jawab orang itu.

"Setelah perubahan administrasi, kau yang punya koneksi dengan yang sebelumnya akan mengundurkan diri."

"Astaga."

"Bergabunglah dengan Firma Hukum Taebaek."

"Jeong Il, Aku sudah hidup dengan rasa kewajiban pada negara."

"Aku akan... membayar kewajibanmu itu."

Orang itu berdiri untuk pamit dan Jeong Il menyalaminya sambil senyum lebar.

Setelah orang itu pergi, Young Joo bertanya, apaorang itu yang punya hak memberikan penangguhan eksekusi untuk ayahnya? Jeong Il menjawab dengan anggukan kepala beberapa kali.

Young Joo bertanya lagi, apa Jeong Il bahkan meneteskan air mata setelah membunuh seorang pria?

Jeong Il maju beberapa langkah sebelum menjawab, tapi bukan jawaban sih, Jeong Il malah mengajukan pertanyaan, apa Young Joo pikir mereka cukup dekat untuk mengakui sesuatu?

"Aku akan membuatmu meneteskan air mata di ruang interogasi segera." Tegas Young Joo.

Jeong Il kembali maju dan kali ini ia menjawab tepat disamping telinga Young Joo, "Mungkin aku akan melihatmu menangis di pemakaman ayahmu. Aku ingin membantu ayahmu diberikan penangguhan eksekusi. Tim investigasi akan segera datang. Beritahu mereka, apa yang terjadi di malam sebelum pernikahannya."

"Tampaknya, kau dan aku ingin hal yang sama. Kebenaran." Lanjut Jeong Il dengan senyum penuh kemennagan.

Pembicaraan mereka terhenti karena ponsel Young Joo berdering. Jeong Il pun berjalan menuju mejanya dan memberi ruang Young Joo untuk mengangkat telfonnya. Itu adalah telfon dari Dong Joon yang mengabarkan kalau ia sudah dapat kunci brankas Soo Yeon. Tanpa menjawab apa-apa lagi, Soo Yeon menyudahi telfonnya.

>


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search